Sering kali, Komunitas Sel (Komsel) dipandang sebelah mata hanya sebagai kegiatan rutin agama yang menyita waktu istirahat di tengah kesibukan kerja. Ada pula yang terjebak dalam pemahaman dangkal, menganggap Komsel sekadar tempat arisan untuk berkumpul dan makan bersama , atau bahkan menjadi wadah untuk menceritakan keburukan orang lain. Secara teologis, Komsel jauh melampaui itu. Komsel adalah sebuah komunitas partisipatif di mana poin utamanya bukanlah khotbah satu arah, melainkan sebuah ekosistem rohani untuk berbagi hidup, saling mendoakan, dan berinteraksi dua arah. Komsel adalah tempat berbagi beban dengan tujuan agar setiap anggota bertumbuh melewati masalahnya, bukan sekadar memaklumi kelemahan secara terus-menerus. Dalam teks 1 Tesalonika 5:11, Rasul Paulus berbicara kepada jemaat yang hidup di bawah tekanan dan penganiayaan. Dalam kondisi iman yang goyah, saling menasihati menjadi sarana anugerah Tuhan untuk menjaga api iman tetap menyala. Karena itu jika dipahami saling menasihati bukanlah ajang untuk merasa lebih benar atau lebih rohani. Sebaliknya, ini adalah kehadiran seorang saudara yang peduli dalam terang firman Tuhan. Bahkan prinsip dari menasihati bertujuan agar setiap orang menyadari kesalahannya dan mau berubah menjadi pribadi yang lebih berguna bagi sesama.